Monday, September 3, 2012

Bimbelku, Tempat Lab-ku Mengajar

Slide yang pertama muncul adalah slide ke - 5.
Slide 5: Ini cara memfaktorkan. Jika anak sudah mengerti, ajarkan anak menfaktorkan persamaan kuadrat dengan feeling. Adu cepat dengan anak semata untuk "manas-manasi" dan memberi semangat pada anak untuk memecahkan persoalan.
Slide 1: Ini bimbel milikku. Tempat laboratoriumku mengajar

Slide 2: Matematika itu sebenarnya mudah.

Slide 3: Keterangan ini yang membuat anak mengerti apa artinya variabel x dan y.

Slide 4: Sebelum mengajar, ingatkan lagi pecahan SD.

Slide 6: Saat mengerjakan soal aljabar, anak akan mengasosiasikannya dengan pecahan SD

Slide 7:-
Slide 8:-
Slide 9:Ini gunanya pecahan SD. Akan memudahkan anak dalam menyerap materi yang diajarkan. (Ini materi pangkat SMA)
Slide 10: Kesabaran adalah modal dasar mengajar anak. Sabar untuk menerangkan kembali konsep awal. Bahkan mengajarkan aljabar pada anak SMA pun, guru juga perlu menjelaskan kembali konsep dasar pecahan SD. Percayalah, anak akan lebih mudah mengerti. Dan menyukai bahwa matematika itu sebenarnya mudah


Slide 9: Ini gunanya pecahan SD. Akan memudahkan anak dalam menyerap materi yang diajarkan. (Ini materi pangkat SMA)

Matematika adalah Bahasa yang Dituangkan Dalam Angka dan Simbol

Ajarkan matematika, dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami anak. Lihat bedanya!

Pendidikan Inklusif

Aku begitu tersentuh dengan slide ini. Memang betul adanya, mestinya sistem harus disesuaikan dengan kondisi anak-anak. Bukan sebaliknya. Alhasil banyak abk tidak dapat bersekolah. Maka beruntunglah abk yang dapat bersekolah dengan baik karena support finansial, ketemu guru baik, sekolah yang tepat, dan orang yang tepat. Namun tidak banyak ortu dan abk yang bisa menikmati kemewahan itu. Seberapa besarpun perjuangan orang tua, ketemu orang & tempat yang tepat adalah kemewahan rejeki tersendiri.

Muridku Takut Kalah Sama "yang Curang"

Mau bikin materi kimia buat besok. Anak SMA kelas 3 internasional pada minta diajari dari awal kelas satu sehingga mereka PD menghadapi UN dan SNMPTN yad.

"Katanya SNMPTN mau dihapus, Bu? Masuknya pakai nilai UN?" tanya murid-muridku. "Enggak usah kalian pikirin itu. Yang penting kalian semangat dan rajin belajar." jawabku.

"Kalian mau masuk mana?" "ITB, Bu. UI, Bu. Ke Jepang, Bu. Ke Malaysia, Bu. Ke Singapore, Bu...." celoteh anak-anak. "Yuk, kita belajar yang rajin. Yang penting rajin dulu. Hasil itu akan mengikuti usaha. Kalaupun kalian diterima di universitas swasta, paling tidak kalian tetaplah anak yang bermutu karena kalian anak rajin."

Aku enggak pernah mau memberi harapan kosong pada anak-anak dan orang tua. Yang aku pentingkan adalah proses. "Mari kita berusaha, rajin belajar, dan jujur! Itu yang membedakan kita dari kebanyakan orang." tandasku ke anak-anak.

"Buuu, kalau masuk PTN pakai hasil UN ... kita nanti kalah sama SMA 'ecek-ecek' yang suka ngasih bocoran jawaban ke murid ..." keluh muridku.



"Kalian jangan takut sama orang yang tidak jujur. Tidak akan berkah. Ijasah yang jujur akan membuat kerja kalian menjadi berkah. Uang yang kalian peroleh pun akan berkah. Dan rejeki yang halal itu yang akan mengalir ke darah anak kalian nanti."

Jadi guru memang sekaligus harus bisa merangkap jadi ustadz atau ustadzah. Tapi gurunya juga harus jujur dan bener dulu ... :D

"Bicaralah hanya yang membawa manfaat."

Kata seorang sahabatku, "Bicaralah hanya yang membawa manfaat." Alhamdulillah punya sahabat yang selalu mengingatkanku, sedikit bicaranya - tetapi sekali bicara, kena di hati. Kata hadist juga ... Kebanyakan dosa anak Adam karena lidahnya. (HR. Athabrani dan Al Baihaqi) :D

Ikuti Gaya Belajar Anak-Anak

Coba kita cerita ke anak TK, platipus itu binatang bertelur dan menyusui anaknya. Ekornya seperti berang-berang, mulutnya seperti bebek berbentuk sudu. Bentuk badannya seperti tikus besar. dll Dijamin anak TK-nya akan bingung membayangkan. Supaya tidak bingung, tuangkan saja dalam gambar. Beres jadinya! Diriku juga kalau menerangkan materi tanpa gambar, asli mumet! Apalagi muridnya ya?! Makanya gaya mengajarku aku lengkapi dengan 3 gaya belajar sekaligus; auditory, kinestetis, dan visual. Jadi pengajar siap-siap jadi aktor yang baik, intonasi suara diubah-ubah sesuai kebutuhan, bahasa tubuh dan tangan untuk lebih menekankan penjelasan, gambar sangat membantu agar anak-anak lebih paham.

Bagaimana Mengajar Itu?

Mengajar adalah menyampaikan materi dengan bahasa sederhana sehingga anak mudah memahami apa yang kita sampaikan. Modal utama guru adalah kemampuan meramu bagaimana caranya menerangkan materi pelajaran sehingga mudah dipahami murid. Perlu ada usaha untuk itu. Harus banyak baca dari berbagai sumber, hingga mengerti betul. Setelah itu didiskusikan bareng suami. Karena aku tidak mau menerangkan sesuatu tanpa aku mengerti tentangnya. Aku tidak mau suamiku menyalahkan materiku di depan anak-anak. Biasanya aku langsung bilang, "stop!" saat suami mau koreksi langsung. Sambil kuberi kode, "nanti diskusinya". Sementara, guru juga dituntut mengajar tanpa kebanyakan kata. Nah, meramu kata; singkat - padat - sederhana - dan mudah dipahami ini kadang membutuhkan keahlian tersendiri. Akhirnya beg
inilah jadinya contoh materi pelajaran yang aku buat:

About Me

My photo
Saya, lulusan ITB, yang telah mengajar matematika SD hingga SMA selama lebih dari 20 tahun. (Dari tahun 1990 hingga sekarang).
Saya sangat menikmati dunia mengajar.
Saya juga mengajar anak SMA kelas Internasional hingga mereka bisa mengerti materi A Level matematika, fisika, dan kimia dengan lebih mudah.
Dalam mengembangkan materi pelajaran, saya mempunyai tenaga ahli, jurusan teknik fisika - ITB (S-1) dan teknik informatika - ITB (S-2).
Saat ini saya juga aktif memberi pelatihan "Bagaimana Mengajar Matematika Secara Mudah dan Menyenangkan" bagi guru-guru SD di Indonesia. Kegiatan ini dimotori oleh ITB88 Peduli Pendidikan.
Hubungi saya di:
facebook "Koeshartati Saptorini" https://www.facebook.com/rini.ks.5