Tuesday, April 20, 2010

Mengajar anak "bermasalah" = memotivasi

Berbagi pengalaman mengajar anak "agak berkebutuhan" khusus
1). Mengajar anak kelas 4 SD ranking terbawah di kelas
2). Mengajar anak kelas 4 SD dengan gangguan konsentrasi
3). Mengajar anak kelas 2 SD "lambat belajar"
4). Mengajar anak kelas 4 SD "tidak tahu apa yang harus dikerjakan"
5). Mengajar anak kelas 6 SD “fobia pada matematika”
6). Mengajar anak kelas 2 SMP "setengah jam berapa menit - tidak tahu"

1). Mengajar anak kelas 4 SD ranking terbawah di kelas

Bu Rini“Siapa namamu? Kelas berapa?” “Tara! Kelas 4 SD”
“Sudah hafal perkalian?” “Belum!”
“Buat sendiri daftar perkalian dan hafalkan”

Tara lantas membuat daftar 2x1, 2x2, 3x2, dst...sampai 9x9. Hanya memberikan contoh tulisan daftar perkalian 2x1 sampai 2x10 ke bawah. Bilangan perkalian 3 sampai 9, saya suruh buat sendiri.
Dari percakapan dengan mama Tara, saya tahu kalau Tara anak cerdas. Walaupun dia menempati ranking terbawah di kelas. “Taraaa, kamu itu anak pintar. Jadi Bu Rini yakin kamu akan bisa menghafal perkalian ini dalam waktu 15 menit. Hafalkan yaaa.” “Haaaa, Ibu?” “Coba saja, kamu pasti bisa!” kata saya.

15 menit kemudian, saya test hafalan Tara dan ternyata dia hafal! “Ibu, Tara ini anak pintar. Kalau tidak pintar, dia tidak akan bisa menghafal perkalian ini dalam waktu 15 menit...” Mama Tara senyam-senyum saja mendengar pernyataan saya. Tara juga kelihatan bahagia sekali, “Baru kali ini ada yang bilang kalau saya anak pintar!”. “Kamu itu memang pintar, Tara. Percaya sama Bu Rini.” ujar saya meyakinkan.

Bulan pertama, Tara saya ajarkan perkalian dan pembagian (jumlah pertemuan satu minggu sekali). Bulan kedua saya ajarkan pecahan. Bulan keempat, kurang bahan pelajaran, akhirnya saya ajarkan materi kelas 5 SD.

Hasil: kurang dari 20 kali pertemuan, Tara menempati ranking 6 di kelas. Sekarang, setiap ada pelajaran matematika guru sekolah berpesan agar Tara jangan menjawab pertanyaan guru dulu, “Tara jangan menjawab dulu ya.”

Hal yang terpenting saya katakan pada Tara adalah:
1. Setiap Tara melaporkan tugasnya saya selalu bilang, “Horeee, Tara memang pintaaarrr!” Sambil tepuk tangan.
2. “Kamu anak pandai”
3. “Supaya kelihatan pandainya, rajin belajar”
4. “Latihan matematika, hafalkan PKn, sejarah, IPA, dll”
5. “Bu Rini aku capai...” “Ya sudah, sana main dulu. Bu Rini beri waktu 10 menit ya.”

2). Mengajar anak kelas 4 SD dengan gangguan konsentrasi

“Sini, Nak. Belajar sama Bu Rini! Hari ini kita belajar bilangan bulat.” Saya ambil potongan kayu kecil-kecil. “Kamu utang 8 kayu sama Bu Rini. Bu Rini minta.” Anak itu “B” saya suruh memberikan semua potongan yang ada di tangannya. Saya pura-pura bilang, “Lah, kebanyakan ini. Kamu utangnya kan Cuma 8. Kebanyakan berapa?” Dst, saya ulang tidak sampai 5 kali, lantas saya sodorkan latihan soal untukn dia kerjakan.
Hasil nilai bilangan bulat : 100.

Pertemuan kedua dst, saya ajarkan pecahan hingga pecahan kelas 5. Giliran ulangan mendapat nilai 6,5 karena “B” lupa cara mengerjakan soal tertentu. Padahal soal itu sudah saya ulang-ulang. Mama B melaporkan kalau B hanya mendapat nilai 6,5. Saya hanya menjawab, “Saya disuruh bagaimana lagi. Usaha saya sudah maksimal. Dan saya juga bukan tipe guru yang harus mentargetkan nilai tertentu pada anak. Yang penting saya mengajarinya maksimal, tentang hasil lillahi ta’ala.”

Saya lantas menceritakan, bahwa saya juga pernah mengajar “C” (perempuan) dari kelas 4 SD. Pada saat ujian akhir sekolah, “C” hanya mendapat nilai matematika 6,5. Potensi “C” mulai muncul di tingkat SMP. Nilai ulangan harian matematika selalu di atas 8, suka mendapat nilai tertinggi di kelas, dan sekarang saat ditest IQ, IQ nya = 143. (Naik, jauh lebih tinggi dibanding saat SD). Saya katakan pada “C”, hasil test IQ-mu 143, itu sudah modal yang bagus untuk test potensi masuk ITB. “Wah, terpancar rasa bangga dan bahagia di wajahnya.” Kita bisa memotivasi anak dari segi mana pun. (Baik dari segi kelemahan maupun kelebihan).

Hasil saya mengajar B:
1. Anak bisa mengerjakan soal dengan lebih cepat
2. Hobi bengong anak sudah hilang dan konsentrasi anak sudah membaik
3. Pemahaman anak terhadap soal cerita meningkat pesat
4. Anak malu lapor sama Bu Rini jika nilainya di bawah 7. Rasa malu ini saya pandang sebagai hal yang positif, artinya anak itu juga sebenarnya punya cita-cita untuk dapat meraih nilai yang baik. Jika anak mendapat nilai jelek, justru anak ini lebih sering saya puji. Saya katakan, “Kamu itu hebat. Mau les dan kerjakan PR. Lain kali yang teliti ya, biar nilainya lebih baik.” Setelah itu, nilai jelek tidak saya singgung-singgung lagi.
5. Insya Allah sih...saya menaruh harapan yang positif pada “B” ini. Tapi saya tidak menjanjikan ini pada orangtuanya. Insya Allah, B suatu saat akan dikenal jadi anak pintar di sekolahnya. Entah saat SMP atau SMA. Saya yakin itu.

Hal penting yang saya lakukan:
1. “B, jika kamu bisa mengerjakan 20 soal ini dengan cepat, kamu boleh main dan lesnya selesai. Tapi kalau kamu banyak bengong dan lama, nanti soalnya mau Bu Rini tambah jadi 40 soal. Mau milih yang mana?” Semua anak pasti memilih “mengerjakan 20 soal, cepat selesai, dan boleh main.” Lantas saya bilang, “Kalau lebih cepet lagi, Bu Rini korting deh, yang dikerjakan 15 soal saja...” Anak langsung gembira, “Horeee, dikorting.” Padahal itu mah, trik menghadapi anak saja.
2. “B, kerjakan PR ini ya. Kalau tidak mengerjakan, minggu depan kamu akan Bu Rini kasih PR 200 soal.” PR yang saya berikan kepada anak biasanya 10 sampai 15 soal. Anak pasti memilih mengerjakan PR.
3. Bagaimana jika anak tidak mengerjakan PR? Biasanya untuk menghindari tugas 200 soal, sebelum ditanya guru, anak akan melaporkan, “Bu Rini, maaf, aku tidak mengerjakan PR karena kemarin ada ulangan, tugas sekolah, dll.” Kalau ada alasan, biasanya saya hanya menjawab, “Ya sudah, kumpulkan minggu depan ya.”

3). Mengajar anak kelas 2 SD "lambat belajar"

Sebut saja namanya Bunga. Saya tahu kalau Bunga lambat belajar, karena saya memang kenal baik dengan keluarga Bunga. Orang tua Bunga kebingungan mencari guru les buat Bunga. Biasanya saya tidak pernah mau menerima anak kelas 2 SD. Minimal kelas 5 SD. Namun saya selalu tergerak untuk membantu anak-anak yang dianggap “bermasalah” oleh guru/teman/ortu. Saya katakan pada kakak Bunga, “Ajak Bunga belajar sama Bu Rini. Sini, Bu Rini ajari!” Orang tua Bunga sangat berterima kasih atas ajakan ini.

“Ibu, saya tidak akan mengajarkan konsep mengapa 3 + 5 = 8 dan 3 x 5 = 15. Itu sudah diajarkan di sekolah. Saya akan tabrak langsung saja. Percayakan sama saya, tetapi Ibu jangan banyak berharap “target hasil” dengan cepat dan dalam waktu yang singkat” “Iya,Ibu, saya mengerti”.
Pertemuan pertama, langsung saya ajarkan daftar perkalian dan seperti yang lain, menghafalkan perkalian tersebut. Ada hal yang terlewat pada pertemuan ini, ternyata Bunga juga masih berhitung penjumlahan satuan “dalam waktu lama” dengan jari.

Pertemuan kedua, Bunga saya suruh membuat daftar penjumlahan dan hafalkan. Pada pertemuan kedua ini, ada PR 2 lembar kertas untuk bunga. Menghafal perkalian dan penjumlahan satuan.
Hasilnya: Bunga sudah mulai hafal perkalian dan penjumlahan. Rencana bulan ini,penjumlahan, perkalian, pembagian. (Bunga baru 2 kali bertemu saya – murid baru).

Hal penting yang saya lakukan:
1. Awal pertemuan: Saya katakan pada Bunga, “Tidak masalah kamu mendapat nilai jelek dan ranking bawah di sekolah. Cuekin saja kalau ada anak yang mengejek. Hal yang paling penting adalah kamu rajin belajar. Itulah hebatnya kamu. Suatu saat kamu akan jadi anak pintar.”
2. “Minggu ini hafalkan tugas dari Bu Rini ya, kalau tidak nanti Bu Rini tambahin PR-nya jadi 200.” Kata saya sambil tertawa, agar anak tahu bahwa ucapan Bu Rini itu tidak serius tapi juga tidak main-main.
3. Akhir pertemuan: “Bunga, Bu Rini itu, waktu kelas 2 SD, nilainya jauh lebih jelek daripada kamu. Nilai Mama juga. Tapi Bu Rini sama Mama sekarang jadi pintar kaaan?” Bunga terlihat senang mendengar ungkapan saya.
4. Kebetulan saudara kembar Bunga masuk kelas akselerasi di sekolahnya. Saya katakan, “Bunga, saudaramu itu bisa cepat mengerjakan soal karena dibantu malaikat. Jadi kelihatan pintar sekali.” “Malaikatnya curang, kenapa tidak membantu aku.” “Karena kamu diberi banyak kelebihan sama malaikat, kamu anaknya baik, rajin belajar, mama papa mbak sayang kamu, dan yang penting kamu happy.” “Oh, iya Bu...” kata Bunga sambil tertawa. “Malaikatnya pengin kamu rajin belajar saja, pasti jadi pintar.”

Hari ini Bunga mendapat pengalaman yang sangat berharga dari pertemuan tersebut.
Padahal saudara....,saya mengajari anak kedua dan ketiga juga pusing tujuh keliling. Kejar sana, kejar sini, rasanya seperti berlari marathon dan tidak tahu kapan berhentinya. Mengapa?

Karena jika menghadapi anak kandung, saya tidak hanya memikirkan bagaimana belajar anak, tetapi juga memikirkan biaya terapi yang ruarrr biasa besarnya. Tetapi ini bukan masalah saya, karena ini menjadi ladang pahala yang amat besar dan mudah bagi saya. Mengapa saya katakan “Mudah!”. Tidak tahu mengapa, saya berkeyakinan salah satu diantara anak saya adalah anak yang sangat polos, tidak pernah niat berbuat salah, insya Allah terjaga dari dosa. Insya Allah, punya anak seperti ini adalah suatu karunia “ketenangan batin” yang mendalam....dan itu hanya bisa terceritakan dengan sesama orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus.

Keterangan: saya mengajar anak ini secara berkelompok (4 - 8 anak).

Bersambung

No comments:

About Me

My Photo
Saya, lulusan ITB, yang telah mengajar matematika SD hingga SMA selama lebih dari 20 tahun.
Saya sangat menikmati dunia mengajar.
Saya juga mengajar anak SMA kelas Internasional hingga mereka bisa mengerti materi A Level matematika, fisika, dan kimia dengan lebih mudah.
Dalam mengembangkan materi pelajaran, saya mempunyai tenaga ahli, jurusan teknik fisika - ITB (S-1) dan teknik informatika - ITB (S-2).